Awie Baqi Qinia Menjadi Delegasi FAN 2018 di Surabaya

702

Indigo Media Promo – Menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) menggelar Forum Anak Nasional (FAN) di Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan bertema ‘Bakti Anak untuk Negeri’ itu dilakukan pada 19-22 Juli untuk mengawali rangkaian peringatan HAN 2018.

FAN tersebut merupakan wadah partisipasi anak secara berjenjang mulai dari Forum Anak Nasional (FAN), Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi, Kabupaten/Kota, dengan keanggotaan berbasis organisasi kegiatan anak, organisasi siswa intra sekolah (OSIS), organisasi berbasis agama seperti remaja masjid, muda-mudi gereja, anak jalanan, disabilitas, pramuka, sanggar seni, budaya, dan olah raga.

Awie Baqi dari Qinia Musik Medan adalah peserta yg terpilih dari Kota Medan sebagai Anggota Delegasi Forum Anak Daerah Sumut 2018. Berbekal prestasi dibidang seni musik yaitu biola,  Awie akan menunjukkan bakatnya di ajang bergengsi yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia tersebut. Kita di Sumatera Utara turut berbangga atas keberhasilan Awie tersebut.

FAN merupakan mekanisme pertemuan perwakilan atau pengurus Forum Anak Daerah (FAD) dari provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia yang diisi dengan program capacity building dengan menggunakan metoda partisipatif dan rekreatif oleh fasilitator nasional yang qualified. Forum tersebut diharapkan dapat memberikan inspirasi anak-anak untuk bangga menjadi anak Indonesia dan termotivasi untuk berprestasi.

Dalam keterangan pers (18/7) pertemuan FAN digelar dengan maksud menumbuhkan rasa nasionalisme anak yang menurun di Indonesia di tengah dinamika pembangunan di bidang sosial, budaya dan ekonomi yang dipercepat dengan adanya globalisasi serta kemajuan teknologi informasi. Rendahnya nilai serta nasionalisme yang dianut anak Indonesia dewasa ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Salah satu tolok ukurnya adalah anak-anak remaja yang mulai terpapar aliran-aliran radikal yang tidak sejalan dengan upaya memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam situasi yang ekstrem, anak-anak terutama remaja yang sedang mencari jati diri, sangat mudah terbujuk dan terjebak dalam kelompok radikal sehingga mengganggu proses tumbuh kembang secara fisik, mental, dan sosial. (sumber. Okezone – Facebook).