Butuh Bapak Pengayom Atasi Ketidakkompakan Musisi Medan

132
Dedhy Dhriwa Basis Sang Prabu Band

MEDAN – INDIGO MEDIA PROMO

Untuk meraih predikat Medan sebagai ikon kota musik, tidak serta merta menjadi beban pemerintah semata. Namun juga harus melibatkan semua orang, khususnya menuntut keseriusan para musisi dalam upaya mengembangkan kreativitas maupun aspek bakat lainnya.

Musisi memiliki tanggungjawab besar untuk mewujudkannya. Tapi sayangnya, kata Dedhy Dhriwa, justru musisi dianggapnya belum menyatu. Masih berjalan sendiri-sendiri. Tidak hanya Dedhy merasakan  ketidakkompakan ini juga dirasakan oleh musisi lainya. Lantas, kalau kondisinya demikian, bagaimana caranya pemerintah bisa mewujudkan medan ikon kota musik?

Menurut Dedhy, solusinya adalah musisi butuh bapak pengayom. Dalam hal ini Ia maksudkan adalah kehadiran pemerintah untuk memecahkan kebuntuan masalah ketidakkompakan tersebut.

“Cara menyatukan musisi Medan adalah adanya perhatian bapak pengayom. Yang betul-betul mau memperhatikan musisi Medan. Bapak yang mampu menjalin silaturahmi dengan metode ikut menaungi, mewadahi dan mengapresiasi musik kota Medan,” ujarnya.

Bapak pengayom harus bisa menjadi inspirasi bagi masyarakatnya. Pengayom harus mampu menyatukan, menanungi dan mewadahi. Serta membangun kreativitas dengan mengadakan festival musik secara berkala.

Misalnya dengan mengadakan Festival Musik Budaya Daerah. Mengaktifkan kembali Festival Bintang Radio & Televisi Medan. Atau menggelar pagelaran setiap tahun seperti Festival Musik Rock Sumut – Aceh yang pernah sukses dan booming ditahun 80’an – 90’an yang digagas oleh Maestro Medan, kak Ayun Mahruzar dengan tema Musik Siang Bolong (Siblonk).

Ataupun event lainnya apapun itu bentuk jenis musiknya, agar para musisi dapat bertatap muka. Dan disini akan terbangun secara otomatis jalinan silaturahmi. “Dengan terjalinnya silaturahmi, akan mudah menyatukan visi misi untuk membangun kembali Aura Musik Medan yang telah lama hilang,” tegasnya.

Oleh sebab itu, basis Sang Prabu Band ini berharap, kepada Calon Wali Kota (Cawalkot) Medan yang memenagi pertarungan pada Pilkada tahun ini, bisa menjadi bapak pengayom mewakili pemerintah maupun sebagai wakil suara musisi untuk mewujudkan perkembangan musik di Medan menuju ikon kota musik.

“Cawalkot yang mendukung musisi pasti pula didukung oleh musisi,” tuturnya.

Bangun Kekuatan Musik di Medan Melalui Fasilitas Mumpuni

Selain menjadi bapak pengayom, pemerintah juga harus menyiapkan fasilitas mumpuni yang bisa menampung kreativitas musisi. Seperti sanggar atau gedung kesenian. Ataupun membenahi Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) sebagai wadah menjalin komunikasi atau bertukar info tentang perkembangan musik di Medan maupun di luar daerah.

Selanjutnya, pemerintah juga bisa membangun studio rekaman yang layak seperti di Jakarta.
Karena Medan belum punya kapasitas studio rekaman standard kelas Nasional.
Padahal banyak musisi Medan mempunyai karya lagu yang layak dijual di pasar bursa musik Nasional.

Dedhy berpendapat, sarana yang harus dibangun oleh pemerintah tersebut sangat sebanding dengan prestasi yang pernah dicapai oleh kota Medan. Karena dilatarbelakangi sebagai salah satu kota penyumbang artis berbakat dalam hal tarik suara di Indonesia. Bahkan sebagai kota penghasil bibit-bibit musisi melayu yang sangat kondang sampai ke negeri jiran. Dan hal itu sudah benar-benar sudah dibuktikan.

“Dari sini akan terbangun sebuah kekuatan apabila Medan mempunyai fasilitas mumpuni sekelas tingkat Nasional. Dan Medan sangat pantas meraih ikon kota musik,” jelasnya.

Sedangkan harapan lainnya, lanjut Dedhy, Medan juga butuh pemimpin yang bersih dan punya power. Tidak mementingkan uang atau gampang tergiur dengan urusan suap menyuap serta jeli dengan kebutuhan masyarakat.

Ciptakan suasana kondusif di Medan yang belakangan ini marak dengan Para Begal. Kemudian tingkatkan pelayanan di rumah sakit. Sebab, Dedhy menilai, banyak rumah sakit di Medan ini seperti pasar pagi.

“Tidak bisa dibedakan mana pasien dan mana pembesuk. Hiruk pikuk bagai pasar malam.
Pasien sangat terganggu atas kunjungan tamu yang tidak ada aturan hampir seperti ditemui di banyak rumah sakit,” ujarnya kesal. Beck’s