Komisi III DPRD Kota Medan Pastikan Nasib Musisi Yang ‘Dirumahkan’ Akan Dibahas Pada Rapat Fraksi

840
Erwin Siahaan Sekretaris Komisi III DPRD Medan. Foto : Ist

MEDAN – INDIGO MEDIA PROMO

Komisi III DPRD Kota Medan mengakui usulan Pemerintah Kota Medan atas penggunaan anggaran Rp100 miliar masih fokus dalam pengendalian pandemi virus corona (Covid-19). Belum masuk pada pembahasan membantu para pekerja di sektor informal, termasuk musisi/pemusik reguler yang saat ini ‘dirumahkan’ sementara oleh pemerintah karena upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus corona.

Namun Erwin Siahaan, Sekretaris Komisi III DPRD Kota Medan memastikan, pihaknya akan membahas persoalan nasib para musisi/pemusik reguler yang sementara ini tidak bisa bekerja, dalam rapat fraksi DPRD Medan. Sehingga dana Rp100 miliar tersebut jelas arah alokasinya seperti apa dan kemana.

Ia menjelaskan, sejauh ini komisi III sendiri belum mengetahui anggaran Rp100 miliar yang dipersiapkan Pemko Medan, dikonversikan dalam bentuk apa. Hanya saja, sebesar Rp10 miliar dana cadangan sudah dipakai Pemko Medan untuk gugus tugas covid-19.

“Kita di lembaga ini juga sedang ribut kenapa harus diam-diam saja. Kita harus mencari payung hukum dulu. Supaya bisa beranjak dari mana agar bisa menentukan langkah-langkah penyeimbangan seperti apa yang diambil terkait dampak keputusan pemerintah dalam hal penutupan jalan, penutupan tempat hiburan dan lain sebagainya,” ungkap kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menjawab pertanyaan Indigo via telepon, Sabtu, (28/3/2020).

Menurutnya, penyeimbangan dampak dari penutupan beberapa fasilitas umum tersebut sangat penting dilakukan. Jangan sampai menimbulkan masalah baru. Sehingga pemerintah juga harus memikirkan solusi tepat bagi kepentingan hidup rakyat termasuk musisi/pemusik reguler.

Begitupun, Ia tetap mengimbau kepada masyarakat untuk tetap bersabar. Dan mendukung keputusan pemerintah yang meminta masyarakat berdiam diri dulu di rumah untuk sementara. Serta mempercayai pemerintah melakukan tugasnya dalam membasmi virus Covid-19.

“Jangan khawatir, virus ini bisa disembuhkan kok. Jadi, kalau ada anjuran pemerintah untuk tetap di rumah, ya tenang dulu di rumah. Kita sama-sama berusaha memutuskan mata rantai penyebaran covid-19 ini,”imbuhnya.

Erwin sendiri mengeluhkan, sampai saat ini anggota dewan lainnya juga merasa tidak bisa berbuat apa-apa sejak diberlakukannya physical distancing oleh pemerintah. Padahal dalam jadwal Badan Musyawarah, seharusnya para wakil rakyat sudah melakukan beragam kegiatan seperti kunjungan kerja,sosialisasi perda hingga reses.

Karena itu, untuk mengisi kekosongan kegiatan tersebut, kata Erwin, pihaknya terus mendorong pimpinan DPRD Medan agar pergi ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk membahas payung hukumnya. Apakah bisa anggaran yang sudah dialokasikan untuk digunakan kunker,sosper hingga reses itu, dapat dikonversikan kepada kegiatan berguna yang sifatnya temporer guna membantu kondisi saat ini.

“Kami kan gak ada kegiatan sekarang ini. Kami pengen uang dari anggaran kerja kami itu bisa dikonversikan dalam bentuk kegiatan berguna di dapil bang. Supaya kami pun berarti jangan di rumah aja,” ujarnya.

Berdampak Pahit

Sebelumnya, akibat ditutupnya beberapa pusat hiburan di Medan, berdampak pahit bagi para musisi/pemusik reguler yang mengandalkan upah harian bermain musik untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari besama keluarga.

Kondisi tersebut membuat mereka galau. Alhasil, sebagai bentuk keluhan kepada pemerintah, para musisi pun beramai-ramai mengunggah beberapa foto-foto kegiatan bermusiknya di media sosial.

Tujuannya agar pemerintah dapat memikirkan nasib mereka yang tidak bekerja sementara mereka juga butuh melanjutkan hidup bersama keluarganya.

Seperti akun facebook Djhon Dekil, gitaris Marsalaon, juga memposting video pendek berisikan foto-foto beberapa group band di Medan. Dalam video berjudul ‘Kenali Gue Anak Band’ tersebut menggambarkan isi hati mereka sebagai berikut:

“….Isi suara hati kami… dari balik tirai seni dan alunan nada bahwa kami juga adalah penggerak roda ekonomi daerah…. bahkan republik ini…yang mana diantara kami…adalah..tumpuan ekonomi keluarga dan harapan bagi orang” yg kami cintai.. yang setia menunggu kami pulang dari menjajakan semahal mungkin nada dan melodi bahkan tingkah lucu kami… demi untuk selembar uang merah atau biru yang..bisa dibawa pulang untuk kebutuhan pagi nanti… Namun saat ini…kami terpaksa berdiam diri di rumah…bersama mereka. Entah sampai kapan dan dari mana kami dapat penghasilan kami juga butuh perhatian dari pemerintah kami juga ingin dapat KOMPENSASI sama seperti mereka mereka TOLONG…DENGAR SUARA HATI KAMI”. *Beck’s