Musisi Medan Bisa ‘Besar Kepala’ Kalau Belum Bisa Buktikan Dengan Karya

263
Dicky, Muntah Kawat saat beraksi di atas panggung. Foto : ist

MEDAN – INDIGO MEDIA PROMO

Dicky mengatakan, belum bisa memastikan pantas atau tidaknya Medan bisa dijadikan ikon kota musik. Sebab menurutnya, bisa membuat musisi Medan ‘besar kepala’. Lebih baik buktikan dengan karya terbaik baru bisa meraih predikat tersebut.

Musisi Medan harus semangat dan terus aktif berkarya. Seperti semangat musisi pada era 90-an. Dimana saat itu, banyak musisi mampu melahirkan karyanya. Bahkan mampu membuat full album maupun kompilasi. Meskipun kondisi studio rekaman saat itu terbilang sulit dalam prosesnya. Hanya mengandalkan sistem analog, sekali salah harus diulang dari awal. Namun mereka bisa tetap gigih untuk terus berkarya.

Berbeda dengan era digital sekarang ini, semua sudah dimudahkan. Sampai-sampai bisa membuat semacam home studio recording. Yang seharusnya bisa mendukung musisi berkreasi untuk berkarya. Tapi kenapa musisi masih tetap malas berkarya?, tanya gitaris Muntah Kawat band beraliran Death Grind tersebut.

Kondisi ini, kata Dicky tentu saja memberikan dampak buruk bisa menurunkan grafik kualitas ataupun eksistensi dari sebahagian para musisi. Karena itu, harus disikapi dengan bijak. Kendati banyak penyebabnya, mungkin karena malas, uang, kerjaan ataupun keluarga.

Tapi tetap saja harus diimbangi dengan semangat. Jangan sampai membentuk pola pemikiran sempit. Untuk bisa terkenal harus dengan mengcover lagu orang lain. Mungkin hal itu dapat dibenarkan. Tapi bagi Dicky, justru bisa menghilangkan identitas selaku musisi.

“Kalau pola pikirnya instant seperti itu, gimana mau mendapatin predikat tersebut. Karya itu Abadi, sebagus-bagusnya dan sehebat-hebatnya kita mengcover lagu orang lain, tetap saja itu adalah lagu orang lain. Sudah saatnya, kita para musisi kota Medan bersaing secara sehat dengan karya-karya terbaik kita,” imbuhnya.

Selain malas, masalah yang dihadapi musisi Medan saat ini, kata Dicky lagi, adalah soal ketidakkompakkan. Penyebabnya karena sifat keras, iri dan keegoisan musisi. Harusnya musisi Medan bisa paham kalau Medan memiliki penduduk dari berbagai macam suku, agama dan budaya. Karena perbedaan itu seharusnya bisa menyenangkan. Seperti pelangi, semakin banyak warna semakin indah terlihat.

“Kita harusnya bisa belajar dari pelangi. Sebenarnya gampang untuk menyatukan visi misi para musisi ini, ya.. kembali dari diri sendiri. Kalau semua musisi di Medan menanamkan sifat saling mendukung dan bersaing sehat dari karya, aku yakin kota Medan adalah kota yang disegani. Dan yang paling terpenting adalah attitude dalam bersosialisasi,” paparnya.

Dukung Musisi

Sedangkan saat disunggung soal dukung mendukung Calon Wali Kota (Cawalkot) Medan, Dicky mengatakan bahwa musisi adalah orang apa adanya. Suka bilang suka tidak bilang tidak.

Jadi layak atau tidak layak untuk mendapatkan dukungan musisi, sebenarnya merupakan hak masing-masing dari pada musisi tersebut. Tapi saran Dicky, kalau Cawalkot ingin mencari dukungan atau simpatik musisi harus peduli terhadap musisi.

Dukung semua event-event yang berhubungan dengan kegiatan positif khususnya di dunia musik, apapun event musiknya.  Atau membuat satu venue yang dikhususkan untuk para komunitas musik dari semua genre.

“Menurut saya itu adalah beberapa bentuk kepedulian yang sangat ditunggu buat kalangan musisi dan penggiat event. Dan jangan dipersulit dong pastinya disaat kita para musisi ingin menggunakan ruang kreatifitas tersebut. Dan yang terutama adalah bagi para bapak-bapak atau Ibu-ibu pejabat. Seharusnya ada ataupun tidak ada agenda Pilkada ini, harus selalu perhatikan kegiatan positif para musisi di Medan,” jelasnya.

Kemudian harapan Dicky lainnya adalah inginkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Medan dapat berjalan aman dan lancar. Dan kota Medan juga mampu mendapat predikat sebagai kota aman dari kriminal dan narkoba. Lalu lintas lancar hingga hal-hal berhubungan dengan birokrasi jangan dipersulit.

Maksimalkan Pemanfaatan Gedung Serba Guna

Dicky juga setuju jika Medan harus memiliki gedung kesenian yang mampu menampung kreasi seniman khususnya musisi. Paling penting baginya, bangunan tersebut harus standart konser musik.

Hanya saja, Dicky lebih menyarankan agar Gedung Serba Guna yang berada di Jalan Pancing Medan, bisa dimanfaati dari pada harus mengeluarkan anggaran biaya untuk membangun gedung baru.

Menurutnya, gedung tersebut sangat tepat dijadikan sarana bagi konser musik. Khususnya membuat konser musik dengan sound system skala besar. Tapi sayangnya informasi yang didapat Dicky, sewanya mahal. Jadi harus menjadi perhatian pemerintah untuk memudahkan musisi berkreasi di tempat tersebut.

“Sesuai namanya Gedung Serba Guna. Artinya bisa digunakan untuk acara apa aja dong, baik itu skala kecil dan besar. Tapi malah saya melihat gedung itu hanya digunakan oleh beberapa kalangan saja. Jadi menurut saya, dari pada harus mengeluarkan anggaran biaya untuk membangun gedung baru, mendingan itu saja dipergunakan dan diperbaiki manajamennya. Itu lebih baik menurut saya,” tutup Dicky. *Beck’s